Book

Food Culinary

Otomotif

Recent Posts

Menghadapi Balita Yang Mogok Sekolah

"Aku nggak mau sekolah!" Erin, anak saya yang berusia 4 tahun, langsung histeris Moms, saat diajak ayahnya untuk berangkat sekolah. Ayahnya langsung bingung dan menatap saya. Aduh, selalu begini ya Moms, kalau ada apa-apa sama anak, selalu ibunya yang ditodong penjelasan. Kebayang kan Moms, betapa betenya, ihikksss...



Padahal saya juga bingung lho Moms, kenapa Erin bisa tiba-tiba ngambek di sekolah. Sekian detik saya berpikir Moms. Lalu terlintas di kepala, ingatan saat menjemput Erin pulang sekolah kemarin. Oya, Erin kemarin sempat curhat selama perjalanan pulang. "Ami, nggak mau bagi aku permen. Ami pelittt..," begitu kata Erin berulang-ulang.

"Oh iya, Erin mau dibeliin permen yah, kayak punya Ami," kataku. Ayahnya langsung ketawa. "Mau permen  buat bekal sekolah?" Tanya ayahnya. Erin mengangguk, sambil mengacungkan ibu jari dan jari tengahnya. "Dua," kata Erin. Ayahnya senang Erin sudah semangat sekolah lagi.



Memang bukan sekali ini Erin mogok sekolah. Dulu pernah Erin tidak mau sekolah selama dua minggu, setiap masuk kelas langsung menangis. Padahal awal masuk sekolah Erin termasuk anak yang bersemangat. Saya pernah diceritakan oleh seorang pengasuh teman sekolahnya Erin, namanya Sultan. Kalau Erin pernah meledek Sultan dengan mengatakan kalau yang suka menangis itu temannya Setan.Sejak itu Sultan menjadi anak yang tidak lagi menangis, takut dibilang temannya setan, hehe..

Kembali ke Erin, kenalan baik saya bilang, memang ada kalanya anak tiba-tiba menangis, karena memang ada masanya. Apalagi bila masih balita, jadilah saya terpaksa menerima dengan lapang dada. Ada saja sebab yang membuat anak malas sekolah, dan ini menjadi tantangan bagi setiap orang tua. Dan untuk penyebabnya bisa ketahuan dan tidak ketahuan. Tergantung anaknya masing-masing, mau bercerita atau tidak pada orangtuanya.



Tapi saya pantang menyerah mencari tahu bila Erin malas sekolah, karena saya menganggap ini pembelajaran saya sebagai seorang ibu, untuk mendalami karakter anak. Karena setiap anak kan beda-beda gaya, kembar identik sekalipun tetap berbeda sifatnya. Ditambah lagi Erin tipe ekstrovet, alias selalu terbuka dan banyak ngomong. Sehingga dengan mudahnya saya mengetahui alasan Erin bila tiba-tiba mogok sekolah, karena Erin biasanya akan ngomong setelah dirayu dan dibujuk.

Jadi bagaimana gaya Moms, bila menghadapi anak mogok sekolah?





Suami Yang Ideal Seperti Apa?

Saat masih menyandang jomnes alias jomblo ngenes, saya selalu memimpikan akan menikah dengan suami yang ideal. Dulu saat masih anak-anak, saya mengidokan Satria Baja Hitam RX, setelah remaja saya mengidolakan Bon Jovi, lalu dewasaan dikit saya tergila-gila sama Jet Lee. Apalagi nonton Bodyguard from Beijing, hati sepertinya meleleh, hehe.. Setelah mengikuti pengajian alias liqo, saya menginginkan menikah dengan ikhwan yang ikut pengajian juga, istilahnya laki-laki berjenggot yang suka menundukkan kepala dan rajin ke masjid.



Sayang hampir semua kemiripan idola-idola saya itu tidak ada yang nyangkut di suami sekarang, wkwkw.. Cuma yang nyangkut itu rajin ke masjid (itu pun setelah beberapa tahun menikah), tidak bisa bela diri seperti Satria Baja Hitam RX dan Jet Lee, tidak bisa nyanyi seperti Bon Jovi, dan tidak ikut pengajian dan memelihara janggut.

Setelah menikah saya baru menyadari arti suami ideal tersebut. Ternyata setelah menikah, ada beberapa hal yang harus kita kompromikan, agar idealnya seorang suami terwujud. Kekurangan dan kelebihan suami kita terima dengan lapang dada, begitu juga dia sebaliknya. Lalu kompromi-kompromi seperti apa yang saya telah lakukan?

  • Saya melihat figur ayah, apakah ayah ideal atau ayah temperamental? Lalu bandingkan dengan calon suami. Miripkah dengan ayah? Ada penelitian yang mengatakan, anak perempuan akan memilih suami yang mirip ayahnya. Nah ini jelas sekali saya perhitungkan. Kalau memang ayah kita merupakan suami yang baik, ya alhamdulillah. Tapi bila ternyata ayah kita merupakan ayah yang tidak baik, dalam arti suka KDRT, selingkuh, main perempuan, suka mabuk, suka mencuri. Yang harus diwaspadai, karena tidak semua anak perempuan terlahir dari ayah yang baik, termasuk saya. Saya mempunyai almarhum ayah, yang pemarah dan suka sekali memukul. Dan saya hampir menikah dengan laki-laki tipe seperti ini, untungnya tidak jadi. Membayangkan seperti apa pernikahan nanti sajiaa sudah membuat stress. Seperti yang dialami oleh tokoh Tasya dalam novel Before I Met You, karangan Achi TM, dalam mencari suami ideal.
  • Saya akhirnya tidak mencari suami yang spesial, tapi cari suami yang membuat saya spesial. Mungkin calon suami jauh dari kriteria ideal, tapi kalau bisa saling mendukung satu sama lain, dialah suami ideal. Laksana bulan dan matahari saling menyinari bergantian. Berat sih, kadang kita suka berpikir, gimana kalau nikah sama mantan, seperti apakah rumah tangga kita? 
  • Saya berhenti berpikir kekurangan suami, dan lebih melihat kepada kelebihannya. Menikah dengan orang jelek, miskin, pendidikan rendah tidak menjadikan jaminan dia akan menjadikan dirimu ratu. Karena kualitas seseorang itu tergantung karakter, iman, pemahaman agama, bukan kekurangannya. Dalam berumah tangga semuanya berat kalau dirasa berat. Istri harus pintar-pintar menyiasati segala hal dengan baik, dan pastinya saya mengurangi rasa baper. Walaupun baper pasti ada, tapi nggak baik juga kalau dipelihara.

  • Dulu sewaktu mau menikah tahun 2011, seorang sahabat memarahi saya, yang tidak menerima pinangan teman laki-laki, dengan syarat menikah 1 tahun lagi. Saya tidak mau. Pokoknya saya mau menikah sekarang, lelah menunggu untuk dinikahi. Alhamdulillah, akhirnya saya menikah juga tahun 2011, tentunya dengan suami sekarang. Karena itu saya berpikir, jangan biarkan diri kita selalu menunggu. Menunggu untuk dilamar, menunggu dibawa ke rumah calon mertua, menunggu dikenalkan ke teman-teman, selalu menunggu, karena janji hanya janji. Bila kita orang yang tepat baginya, dia tidak akan membiarkan kita menunggu terlalu lama. Iya kan?

Begitulah suami ideal versi saya. Mungkin orang-orang lain berbeda versi, tapi setidaknya dalam menikah saya berusaha menerima realitas, supaya tidak terperangkap dengan pesona laki-laki lain. Karena bila selalu mencari, saya yakin kita tidak akan pernah menemukan laki-laki yang sangat ideal untuk dijadikan suami. Pernikahan bahagia itu adalah saling menerima satu sama lain. Percaya deh!

Before I Met You, Perjalanan Cinta Yang Manis

Pernah nggak dapat surat cinta? Saya pernah, tapi cuma sekali. Dapatnya juga nggak nyangka, dikira surat biasa aja sewaktu masih kuliah. Isinya lumayan touching sih, mencoba menyakinkan saya kalau si pengirim mencintai saya, tapi berhubung saya tidak pernah menganggap si pengirim surat itu sebagai orang yang saya suka, jadinya surat itu saya buang, hehe.. Buat apa juga disimpan? Memangnya berharga? Wkwkwkw.. 

Tapi ada juga lho, orang yang suka menyimpan surat cintanya, sampai berpuluh-puluh tahun kemudian. Kalau yang ini biasanya karena si penerima surat menyukai si pengirim surat. Ibaratnya surat cinta itu merupakan barang berharga yang melebihi emas. Sampai kertasnya bulukan tetap saja disimpan rapi. Apalagi kalau surat cinta dari mantan kekasih karena kasih tak sampai, disimpan sampai entah kapan. 

Sebenarnya ada rasa sedikit menyesal, membuang surat cinta saya, siapa tahu bisa menjadi bahan untuk membuat novel seperti Before I Met You. Ternyata surat cinta itu mempunyai kekuatan, untuk membangkitkan semangat hidup, dan juga menurunkan semangat hidup, seperti yang dialami oleh ibunya Tasya.



Judul : Before I Met You
Penulis : Ovianty
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Genre : Dewasa
Tebal : 344 halaman
Terbit : Tahun 2017
ISBN : 9786020378466

Blurb:

Danang...
     Danang....
     Tanganku gemetar. Aku gemetaran.

Mencintai seseorang dan menerima dirinya apa adanya tidak mudah bagi seorang gadis bernama Tasya. Ketampanan, kesolehan dan kebaikan Zakki, teman masa kecilnya belum cukup buat Tasya menerima lamaran Zakki, karena Zakki miskin dan pekerjaannya tidak jelas. Tasya membutuhkan hidup nyaman, setelah sejak kecil sampai besar mengalami kesulitan keuangan. Bukan untuk hidup Madesu (baca: masa depan suram).

Apalagi semua masalah hidup membuat Tasya harus realitas. ibunya yang sakit stroke dan juga rumahnya yang terancam disita bank karena hutang keluarganya sangat besar, membuat Tasya lebih memilih ke managernya yang ganteng, pak Arya. Kaya? Tentu saja, ditambah lagi pak Arya juga baik, perhatian dan mau mendalami agama demi Tasya. Tasya merasa tersanjung.

Tapi ternyata percintaan Tasya tidak semudah yang ia kira, menyukai orang lalu menikah. Surat-surat percintaan ibunya membuat Tasya bimbang, ditambah lagi kemunculan ayah yang tidak pernah diharapkannya lagi. Akankah Tasya mengulangi skenario percintaan ibunya seperti dulu, menikah karena harta?

Di tengah kebimbangan, Zakki malah dekat dengan Kirana, mantan kekasih Zakki. Tasya cemburu dan merasa percintaannya sangat rumit sekali. Keputusan seperti apa yang harus ia pilih?

Kita tidak pernah tahu seperti apa jodoh kita. Ada yang gampang bertemu jodoh, ada yang susah bertemu jodoh. Kadang harus kepentok sana-sini dulu dan berdarah-darah. Jodoh tidak mengenal kecantikan, ketampanan, kekayaan, kepintaran dan ketenaran. Semua sudah ditentukan di Laufudz Mahfudz, jauh sebelum kita dilahirkan.

Membaca Before I Met You, sebenarnya menyentil saya, dan itu surprising banget, karena saya seperti membaca kehidupan percintaan saya sendiri. Saya merupakan gabungan Danang dan Tasya. Pengalaman mencari jodoh yang terasa sangat sulit. sampai menangis dan terpuruk dalam. Berjalan tanpa tahu kapan dan dimana berakhir. Bertemu banyak orang, hanya untuk menemukan calon suami.

Dan hampir menikah dengan seseorang yang mirip almarhum ayah, yang bukan merupakan figur ayah yang baik karena suka KDRT. Beruntung kami tidak berjodoh, kalau tidak kehidupan keluarga saya akan kelam dan suram, sama seperti kehidupan orang tua saya. Karenanya saya agak susah untuk mereview novel ini, penuh emosi dalam membaca dan menulisnya.

Di awal pembukaan novel, Tasya sudah menunjukkan keraguannya pada Zakki, yang mau melamarnya. Yang saya suka, sosok Zakki yang digambarkan sebagai laki-laki gentle, tetap mengambil sikap untuk tetap bersama Tasya, walaupun Tasya menolak lamarannya. "Iya, aku bukan calon suamimu lagi, tapi aku masih teman kamu, kan?" (hal. 79)

Sedangkan saya menilai, Arya sangat pede dengan hartanya, dan yakin Tasya akan mau menerima lamarannya. Tapi sayang Arya membuat kesalahan fatal, membawa masa lalu Tasya kembali ke hadapan Tasya. Nah, ini yang kadang membuat laki-laki salah dalam bertindak, jangan pernah kepedean, nanti malah perempuannya kabur, hehe..

Selain itu surat-surat yang ditemukan Tasya, berpengaruh pada kehidupan percintaan Tasya. Saya merasa, Tasya seperti belajar dari kehidupan percintaan, ibunya yang gagal. Yah, kadang kita memang bisa belajar dari masa lalu seseorang, seperti masa lalu orang tua kita.

Kesimpulan yang bisa saya ambil pelajaran dari Before I Met You, yaitu jangan pernah berhenti berharap untuk jodoh terbaik kita, karena setiap orang pasti ada jodohnya, dan setiap perempuan, mempunyai kecenderungan menikah dengan tipe laki-laki seperti ayahnya.

Secara keseluruhan, Before I Met You bukan sekedar novel hiburan bagi saya, apalagi Achi Tm, mengatakan kalau novel ini diangkat dari kisah nyata. Penasaran sama Before I Met You? Baca yuk! Banyak lho di toko buku Gramedia dan toko buku lain yang terdekat di kota kamu. Sekalian kalau mau order plus tanda tangan penulisnya, Achi TM, bisa pesan melalui no whatsapp 0818.0648.2116