Book

Food Culinary

Otomotif

Recent Posts

Simposium Hari Diabetes, Mengenal Lebih Jauh Penyakit Diabetes

Apakah kamu mempunyai salah satu orang tua pengidap diabetes? Atau malah keduanya penderita diabetes. Wah harus hati-hati lho, karena ada kemungkinan kamu menderita diabetes karena faktor genetik. Ini harus diwaspadai, karena diabetes merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita orang saat ini.

Nah, untuk lebih tahu tentang penyakit diabetes. Saya bersama teman-teman blogger menghadiri Simposium Hari Diabetes Sedunia pada hari Rabu, 29 November 2017 di Hotel Ritz Carlton Kuningan, Jakarta dengan tema Women and Diabetes. 



Sebelum acara dimulai, saya berkesempatan untuk mengunjungi stand-stand kesehatan yang ikut meramaikan acara. Salah satu stand yang cukup membuat saya penasaran yaitu stand POSBINDU PTM, yang merupakan stand yang dikelola oleh P2PTM. Stand ini memberikan keterangan mengenai POSBINDU PTM yang kepanjangannya Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular.

Ternyata kita bisa lho mengajukan didirikan POSBINDU PTM di wilayah kita bila belum ada ke Puskesmas setempat. Dan kabar baiknya lagi, kita bisa juga menjadi salah satu relawan POSBINDU PTM. Ibu Uswatun dari Kementerian Kesehatan Direktorat P2PTM, memberikan keterangan dengan senang hati mengenai POSBINDU PTM, saat saya mengunjungi stand tersebut.

Yang menyenangkan di stand ini, bisa cek gula dan kolesterol gratis, mumpung sekalian periksa kesehatan. Ternyata gula darah dan kolesterol saya masih aman, alhamdulillah.



Setelah itu saya mendapatkan kupon di stand POSBINDU PTM, untuk mengunjungi stand berikutnya, melakukan pemeriksaan darah HBA1C. Pemeriksaan darah ini untuk mengetahui apakah ada kecenderungan saya menderita diabetes atau tidak, yang hasilnya akan dikirim lewat email.



Setelah itu saya mengunjungi stand kesehatan mata untuk mengecek gejala katarak pada penderita Diabetes Mellitus, stand Diabetasol, stand catering sehat Gorry dan lain-lain. Tidak lupa saya mencicipi teh yang disajikan di stand Diabetasol dan juga minuman sehat rasa coklat di stand Herbalife. Rasanya enak dan tentu saja sehat. Setelah puas mengunjungi stand, saya masuk ke dalam ruangan karena Simposium akan dimulai.

Simposium dibuka oleh Menteri Kesehatan, ibu Nila F. Moloek, yang meminta masyarakat untuk banyak melakukan aktivitas fisik dan berolahraga serta mengkonsumsi buah dan sayur, dalam rangka mencegah penyakit tidak menular seperti Diabetes Mellitus.



Ibu Nila berharap sebaiknya kedua hal tadi dimulai sejak dini, dari lingkungan keluarga. Dengan GERMAS(Gerakan Masyarakat Sehat) dan adanya POSBINDU yang sedang digalakkan di setiap wilayah, diharapkan Penyakit Tidak Menular dapat ditekan jumlah penderitanya. Saya menjadi malu, kadang kita sendiri sebagai orang tua malas untuk berolahraga dan makan sayur, bagaimana bisa mengajarkan kepada anak untuk hidup sehat?

Selain itu, ibu Nila juga memberikan koreksi dari slogan bapak Presiden Jokowi yaitu, 'Kerja, kerja, kerja.' Menurut ibu Nila, selain bekerja kita juga harus beristirahat yang cukup, karena tubuh kita memerlukan istirahat juga. Benar juga sih, saya kalau terus-terusan kerja, kesehatan biasanya drop sehingga menjadi sakit. Jadi penting juga tidur dan istirahat untuk memulihkan stamina.

Diabetes sebagai salah satu penyakit yang banyak diderita orang saat ini, sekitar 10,3 juta orang pada tahun 2017 ini diperkirakan mengidap diabetes. Yang menyeramkan dari penyakit diabetes yaitu diklaim sebagai induk penyakit, seperti :
  • Resiko terkena penyakit kardiovaskuler 2-3 kali
  • Gangguan prevalensi gangguan stadium akhir ginjal yang meningkat 10 kali lipat pada penderita diabetes.
  • Resiko kena TB, 3-4 kali lebih tinggi pada penderita diabetes.

Yang baru saya ketahui ternyata 1 dari 10 wanita itu penderita diabetes dan diabetes menjadi penyebab kematian wanita tertinggi no. 9 di dunia. Bahkan pada tahun 2012, 6 persen orang di Indonesia meninggal karena diabetes. Dan pada tahun 2015, Indonesia menduduki urutan ke-6 dari banyaknya penderita diabetes. Waduh. Selain itu wanita juga beresiko menularkan diabetes pada anaknya. Berarti sebagai seorang ibu, saya merasa wajib terbebas dari diabetes, agar anak-anak saya juga bebas dari diabetes.

Untuk itu Pemerintah, melalui Kemenkes melakukan kebijakan Operasional Indonesia Sehat melalui:
  1. Pendekatan keluarga lewat Puskesmas dan jaringannya seperti POSBINDU (detect, reponse, prevent)
  2. Penguatan institusi pelayanan kesehatan
  3. GERMAS(Gerakan Masyarakat Hidup Sehat)

Selain itu hadir pula Perdana Menteri Denmark, Lars Lokke Ramusen, sebagai negara tetangga yang juga concern dengan fenomena diabetes di Indonesia. Tidak heran saat baru datang, saya melihat ada tim Gegana dan TNI bersiap siaga di seberang Ritz Carlton. Ini merupakan salah satu tindakan pengamanan untuk Mr. Ramussen dan rombongannya.



Di Denmark, penderita diabetes pun merupakan salah satu penderita penyakit terbanyak. Sehingga diadakan MOU di bidang kesehatan antara Indonesia dengan Denmark, karena walaupun berbeda lifestyle antara Indonesia dan Denmark, tapi untuk urusan penyakit diabetes, jumlah penderitanya sama-sama mengkhawatirkan. Selain itu diadakan juga kerjasama di bidang olahraga antara Indonesia dengan Denmark. Menurut Mr. Ramussen, olahraga terutama bersepeda dapat dilakukan untuk memerangi diabetes. 

Di simposium ini, diharapkan Pemerintah, swasta dan pemerintah Denmark bekerjasama memerangi hipertensi dan diabetes, sehingga mewujudkan masyarakat sehat. Senang mendengarnya, karena hidup sehat dan terbebas dari diabetes, merupakan impian semua orang. 

Lalu bagaimana sih caranya menghindari penyakit tidak menular? Ya dimulai dengan perilaku hidup sehat dong. Namun sayang, masyarakat kita masih berperilaku hidup kurang sehat, dengan ada yang kurang melakukan aktivitas fisik, kurang mengkonsumsi buah dan sayur, masih banyak yang merokok, dan ada yang mengkonsumsi alkohol. Hal ini kemudian mengakibatkan banyaknya penderita penyakit tidak menular di masyarakat, salah satunya diabetes.  

Untuk yang sudah menderita penyakit diabetes, tidak perlu khawatir, sekarang ada cara manajemen untuk mengatasi penyakit diabetes mellitus, yaitu : 

  • Mulai diet sehat, dengan banyak makan sayur dan buah
  • Melakukan banyak aktivitas fisik dan berolahraga
  • Mendapatkan edukasi mengenai penyakit diabetes
  • Monitoring
  • Bila diperlukan dilakukan penyuntikan insulin secara berkala

Oya, pernah melihat betapa ramainya rumah sakit atau puskesmas dengan orang yang berobat? Saya suka melihat antrian orang berobat atau menunggu obat di rumah sakit Pasar Rebo, saat menemani mama berobat. Sangat banyak jumlahnya, malah ada yang sudah datang dari subuh.

Nah, karena itu mencegah orang-orang sakit dan berobat, muncullah Home Visit, yaitu kunjungan para tenakes ke rumah. Kebetulan rumah saya juga pernah dikunjungi, di sini ditanyakan tentang kondisi kesehatan para anggota keluarga, mengecek kebersihan rumah dan juga memberikan edukasi kesehatan. Alhamdulillah, saya dan anggota keluarga lainnya mendapatkan pencerahan tentang pentingnya hidup sehat. 

Sebenarnya yang saya simpulkan di simposium ini, selain Kemenkes yang khawatir dengan peningkatan penderita diabetes di Indonesia, ada juga BPJS Kesehatan yang sedang menghadapi kendala dalam membiayai Jaringan Kesehatan Nasional(JKN). Kenapa? Karena ternyata biaya yang dikeluarkan untuk penderita diabetes mellitus sangat besar, Sebagai contoh untuk penyakit kronis tahun 2014-2016, penyakit diabetes menempati urutan biaya kedua terbanyak setelah hipertensi.

Sehingga kemudian terdengar wacana BPJS untuk tidak membayar sepenuhnya penyakit-penyakit yang menelan biaya besar, seperti diabetes ini. BPJS merugi karena tidak semua warga mendaftar BPJS, padahal pada prinsipnya orang yang sehat membiayai yang sakit. Bila yang mendaftar BPJS merupakan orang sakit semua, dan banyak yang ikut program Jaringan Kesehatan Nasional (JKN) sedangkan orang sehat tidak ikut BPJS, maka BPJS akan terus merugi, Karena itu di tahun 2019, semua orang wajib mengikuti BPJS. Diharapkan BPJS tidak terus merugi, karena pemerintah sudah timpang dalam mengalokasikan dana untuk diabetes.

Uniknya baru kali ini saya menghadiri acara yang disajikan berbagai menu sayuran seperti salad, gado-gado, karedok, dan lain-lain. Saya lalu memakan sayuran dulu, baru makan nasi dan lauk-pauk, ternyata setelah kenyang makan sayur, kita bisa mengurangi porsi makan nasi dan lauk-pauk, lumayan sekalian belajar makan sehat.

Selain itu pada setiap sesi, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya. Saya sempat bertanya pada salah satu dokter yang menjadi narasumber, mengenai tanaman ciplukan dan sirih merah yang dikonsumsi oleh kedua orang tua saya, "Apakah bisa dijadikan sebagai alternatif untuk pengobatan diabetes?" Karena kalau bisa, berarti kan bisa dijadikan salah satu upaya untuk mengobati penyakit diabetes mellitus tanpa harus berobat. Pak dokter menjawab, "Ciplukan dan sirih merah belum dibuktikan secara uji empiris bisa menyembuhkan diabetes mellitus, karena itu tetap tindakan terbaik untuk menyembuhkan diabetes mellitus dengan berobat secara berkala." Saya menjadi dapat pengetahuan, karena saya pikir dengan tanaman obat, penyakit Diabetes Mellitus dapat teratasi dengan mudah.

Kemenkes juga menggalakkan tenakes untuk memerangi penyakit tidak menular. Karena itu peran para tenakes juga diharapkan dalam :

  • Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
  • Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan
  • Mendorong masyarakat hidup sehat dan sejahtera

Oya untuk menolong penderita diabetes mellitus, puskesmas menjadi tempat paling pertama yang promotif dan preventif. Puskesmas diharapkan bisa melakukan upaya pencegahan terhadap diabetes mellitus dengan :

  • Promosi kesehatan, agar masyarakat gemar hidup sehat
  • Deteksi dini faktor resiko diabetes mellitus
  • Penerimaan dini bagi penderita diabetes mellitus
  • Dan tata laksana dini bagi penderita diabetes mellitus

Dan di Simposium hadir perwakilan dari tiga puskesmas yang mewakili puskesmas terbaik dalam pelayanan mencegah penyakit tidak menular seperti diabetes mellitus, yaitu Puskesmas Cengkareng, Puskesmas Pasar Rebo dan Puskesmas Ciracas. Saya kaget, kebetulan rumah saya di Kramat Jati, yang lokasinya dekat dengan Puskesmas Pasar Rebo dan Puskesmas Ciracas. Kapan-kapan semoga bisa berkunjung dan menyaksikan pelayanan kesehatan dari kedua puskesmas tersebut.

Ketiga Puskesmas tersebut memang melakukan inovasi kreatif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Ada dua puskesmas yang mengajarkan senam dengan cara unik, saya lupa puskesmas yang mana yang mengajarkan senam kaki. Sangat bagus untuk ditiru.

Sayang saya tidak sempat mengikuti sesi terakhir karena sudah sore. Semua materi yang disampaikan di Simposium ini sangat bermanfaat, selain menambah ilmu pengetahuan secara pribadi, juga dapat di-share ke orang lain. Diabetes Mellitus serta penyakit tidak menular lainnya, memang dapat dicegah, asalkan kita tahu caranya.










We Made Me Indonesia, Gendongan Terbaik Buat Bayi Dan Ibu

Pernah merasakan bahu sakit karena menggendong anak menggunakan gendongan? Saya pernah kalau menggendong anak kelamaan. Sakit plus nyeri, tapi kalau tidak pakai gendongan takut kecapekan gendong.

Padahal gendongan yang bagus itu seharusnya tetap membuat si penggendong nyaman, sehingga tidak ragu-ragu menggendong anak. Karena menggendong, membangun bonding dengan si anak.

Nah pada hari Sabtu, 18 November kemarin, We Made Me Indonesia(WMM) mengadakan talkshow 'Menggendong Bayi Dengan Benar Untuk Kesehatan Tulang Ibu Dan Bayi,' di Metro Pondok Indah Mall, dengan narasumber Ayu Hastari dan Nindya, dari Baby Wearing Club.



Di talkshow ini, selain fashion show para mommies dan dadies yang menggunakan gendongan WMM, ada juga kakak kecil yang menggunakan WMM untuk menggendong adiknya yang masih batita.



Mba Nindya yang membawa anaknya yang kelihatannya masih 1 tahun, menjelaskan tentang cara menggendong yang benar, sambil memperagakan sesekali dengan model anaknya sendiri.

Saya bertanya tentang gendongan yang baik saat ibu ada di atas motor. Mba Nindya menjelaskan kalau saya bisa menggunakan gendongan(carrier) Pao Papoose dengan cara anak menghadap ke saya. Selain itu, memang cara menggendong anak mengarah ke depan, hanya disarankan selama 15 menit, tidak lebih. Kalau anak tetap digendong mengarah ke depan dalam jangka waktu lama, anak akan rewel sesampai di rumah.



Selain itu buat bayi newborn, cara menggendong yang baik itu dengan pantat lebih ke bawah. Anak newborn belum bisa duduk, jadi berat ditumpukan di pantat. Ada lagi tips dari mba Nindya, cara menggendong yang baik, kaki anak berbentuk M, jangan diluruskan, karena kasihan kakinya masih dalam perkembangan.

Sehubungan dengan launching carrier terbaru yaitu Wuti Wrap, diadakan demo menggunakan Wuti Wrap, yang kemudian dilanjutkan dengan games. Sayang saya tidak mendapatkan kertas di bawah kursi, sehingga tidak dapat mengikuti game. Game tersebut mempraktekkan demo penggunaan Wuti Wrap dalam waktu singkat. Ada 3 peserta, dan yang tercepat menggunakan Wuti Wrap dengan benar, akan menjadi pemenang. Akhirnya terpilih 1 pemenang dan mendapatkan Wuti Wrap. Senangnya.

Acara dilanjutkan dengan sesi Mba Ayu Hastari, yang juga menggunakan carrier WMM. Mba Ayu mengaku senang menggunakan WMM, karena suaminya bisa ikutan menggendong anak. Selain itu WMM, membuat si penggendong bisa melakukan banyak hal, tanpa menganggu kenyamanan anak. Mba Ayu juga mempraktekkan menggendong anak bisa dilakukan sambil senam Zumba, sehingga ibu yang baru melahirkan bisa mengembalikan badannya langsing seperti semula.



Terakhir acara ditutup dengan foto bersama para undangan dan blogger. Sekitar awal Desember, WMM akan ikutan pameran di JCC. Siapa saja yang berminat membeli, WMM yang merupakan brand asli United Kingdom dengan kualitas terjamin.



Penasaran dengan carrier WMM?







Ricuh Kongres Nasional PPWI Kedua

Kongres Nasional PPWI 2 yang diadakan di Gedung Nusantara V pada hari Sabtu, 11 November 2017 sebenarnya bagus sekali. Banyak informasi yang disampaikan oleh para narasumber, yang terdiri dari berbagai pihak, tentunya berguna untuk para peserta.  Namun akhirnya terjadi kericuhan yang sangat disesalkan berbagai pihak.

(Ruang Dewan yang gaduh karena tuntutan peserta)

Berikut kronologisnya :
  • Registrasi dimulai pada pkl. 08.00-09.00 WIB
  • Acara dimulai dengan pembukaan dari doa lintas agama
  • Acara inti dengan para narasumber
  • Pembagian pin di tengah acara oleh panitia, sempat ada narasumber yang komplain agar pembagian pin dihentikan karena menganggu acara 
  • Pembagian snack di tengah acara oleh panitia, tapi hanya dibagikan di urutan depan bangku berderet 6x5, sedang bangku di tengah ke belakang, sampai peserta yang berdiri di belakang, karena tidak kebagian bangku, tidak mendapatkan snack
  • Peserta mulai rusuh di luar karena komplain tidak mendapatkan snack.
  • Peserta berebutan kupon makan siang di luar
  • Acara selesai untuk umum dan mahasiswa pada pukul 12.00 WIB, acara akan dilanjutkan lagi dengan intern PPWI pada pukul 13.30 WIB
  • Pembagian makan siang berupa nasi box, mulai rusuh lagi. Para peserta berebutan makan siang, dan kupon makan siang tidak berlaku. Yang penting siapa yang berani berdesakan dan berebutan makanan, baru bisa makan. Banyak yang tidak mendapatkan lagi makan siang.
  • Saat kongres intern PPWI akan dimulai pukul 13.00 WIB, peserta umum dan mahasiswa, masuk lagi ke ruang dewan dan protes tidak mendapatkan snack dan makan siang kepada narasumber. 
  • Narasumber menenangkan peserta dan mengatakan makan siang sudah dipesan, tinggal menunggu. Peserta mulai tenang, dan mendengarkan. PPWI menjanjikan sertifikat dibagikan. PPWI menjelaskan katanya peserta membludak, dari 1000 peserta yang diperkirakan yang datang 1500 peserta.
  • Tiba-tiba peserta berhamburan keluar, mengira goodie bag dibagikan  ternyata nasi padang. Peserta banyak yang marah, ternyata nasi padangnya basi. Entah semua basi atau hanya sebagian, karena saya sudah makan nasi box, jadi tidak merasakan nasi padangnya.
  • PPWI menjanjikan sertifikat dibagikan. Sertifikat katanya dibagikan di luar. Peserta keluar dan antri di meja registrasi, ternyata sertifikat dibagikan di luar. Peserta marah dan masuk lagi ke dalam.
  • Peserta diminta duduk di bangku, dan sertifikat dibagikan oleh panitia. Keadaan tenang.
  • Tiba-tiba peserta berhamburan keluar, ternyata goodie bag berupa tas ransel dan buku dibagikan hanya 4 kardus besar, dan itu berebutan juga. Peserta marah dan mengejar panitia, sampai ke ruang belakang. Pintu belakang didobrak dan peserta berebutan mengambil goodie bag. Sadewi, salah satu teman blogger mengatakan kalau kardus berisi goodie bag ditendang-tendang panitia, untuk disembunyikan. Dan di bawah tangga, juga terdapat kardus berisi goodie bag. 
  • Peserta yang lain mencari panitia menuntut goodie bag dan fee transport ke dalam ruang dewan. Entah kenapa, ruang dewan gelap, ada beberapa lampu yang dimatikan. Saya pun sempat merekam di dalam ruang Dewan.
  • Keadaan sangat rusuh, saya keluar dan ada peserta yang mengintip salah satu ruangan terkunci. Ada tumpukan kardus di sana. Peserta memanggil panitia untuk membuka ruangan tersebut, panitia muncul dan mengatakan pintu akan dibuka, tapi petugas keamanan juga muncul dan mengatakan kalau barang di kardus untuk acara lain bukan acara PPWI. Akhirnya pintu tidak jadi dibuka. Peserta kecewa. 
  • Ruang dewan kembali tenang. Peserta kembali dan menuntut goodie bag dan uang fee. PPWI mengatakan goodie bag sudah dibagikan. Tapi kenyataannya yang mendapatkan hanya sedikit, peserta marah. Peserta menuntut kejelasan uang fee, kalau tidak absensi yang tercantum fee transport Rp. 110.000,- dikembalikan ke peserta. PPWI menawarkan uang fee akan dibagikan pada hari Senin, peserta menolak dan menuntut uang fee dibagikan saat itu juga.
  • Akhirnya pukul 16.00 diputuskan PPWI akan berunding terlebih dahulu dan keputusan paling telat pukul. 18.00 WIB. Peserta setuju.
  • PPWI kembali ke ruang dewan pada pukul. 17.45 WIB, dan menyampaikan tentang laporan keuangan. Ternyata memang uang dari Dewan sudah turun sebanyak 55 juta untuk transportasi 500 peserta. Tapi sekitar kurang lebih 30 juta dipakai untuk operasional. Dan ada sisa uang sekitar 20 juta atau 22 juta(saya kurang pasti jumlahnya, karena PPWI agak kurang jelas penyampaian sisa uangnya). Uang sisa itu yang akan dibagikan ke peserta, dengan taksiran setiap peserta akan mendapatkan uang Rp. 61.800,-. 
  • Peserta menolak dan meminta dibagikan tetap di angka Rp. 110.000,-. Peserta menganggap PPWI sudah melakukan penggelapan uang, dengan memakai uang sekitar 30 juta untuk operasional, padahal itu uang transport peserta yang diberikan oleh DPD. Malah ada peserta yang pengacara, ibu Grace, menyatakan PPWI sudah melakukan penggelapan uang, dan bisa diajukan ke Polisi. Polisi yang hadir di situ, sampai salah tingkah saat ibu Grace ingin mengajukan delik. Peserta pun menuntut ketua panitia untuk dihadirkan. Suasana panas.
  • Kata sepakat kemudian didapat, para peserta pun absen kembali untuk melihat jumlah peserta yang tersisa, karena banyak yang pulang. Bila memang memungkinkan jumlahnya, peserta tetap mendapatkan transport Rp. 110.000,-
  • Setelah absen terkumpul, pada pukul 19.50 WIB, akhirnya peserta mendapatkan uang transport Rp. 110.000,- Tapi caranya dipanggil satu persatu dari absen baru dan harus menunjukkan KTP atau bukti identitas lainnya. Kalau tidak membawa, peserta terpaksa difoto. 
  • Akhirnya saya dan teman-teman blogger dipanggil sekitar pukul. 20.30 WIB, mendapatkan uang transport Rp. 110.000,- dan keluar dari ruang Dewan lalu pulang.
Sebenarnya saya dan teman-teman blogger lainnya juga pernah datang di suatu event, atas nama pribadi bukan komunitas blogger, seperti Kongres Nasional PPWI ini, yang tidak mendapatkan snack dan makan siang. Tapi kami terpaksa menerima dan memilih pergi pada sekitar pukul. 11.45 WIB dan tetap melaksanakan kewajiban blog post. Hanya karena penasaran dengan hasil akhir kesepakatan peserta dan PPWI, kami memutuskan untuk tinggal. 

Sudah lagi para peserta yang memperjuangkan yang terdiri dari mahasiswa, umum, perwakilan daerah dan lain-lain, meminta kami untuk bertahan di Gedung Nusantara V. Sebenarnya memang bukan nominal uang transport yang dipermasalahkan oleh peserta, tapi profesionalitas PPWI dan panitia. 

Ada beberapa faktor yang membuat para peserta marah :
  • Banyak utusan dari daerah, sayangnya saya tidak ingat dari daerah mana saja. Seingat saya ada yang dari Sulawesi Utara, Papua, dan sebagainya.
  • Ada peserta yang berusia lanjut sekitar 60-70 tahun, kakek dan nenek yang tidak mendapatkan makanan karena tidak bisa berebutan, sehingga ada yang demam, karena sampai pukul 14.00 WIB belum makan. Sedih mengetahuinya.
  • Ada juga peserta difabel, yang ini membuat saya sangat terharu. Saat berbincang dengan peserta laki-laki di sebelah saya, dia mengaku dari yayasan Difabel di Bogor. Dia mensyukuri hanya dia yang datang dari yayasannya, karena dengan keterbatasan seperti memakai tongkat, kursi roda, tidak mungkin mereka berebut makanan. Dia sendiripun  mengaku kaki kanannya memakai kaki palsu dan mengendarai motor dari Bogor ke Gedung MPR. Dia sangat berharap mendapatkan uang transport untuk pengganti bensin. Selain dia, memang ada beberapa peserta lain yang memakai kursi roda dan tongkat. 
  • Di gedung Nusantara V tidak ada minimarket, tidak ada foodcourt, tidak ada kaki lima, tidak ada penjual makanan dan minuman. Entahlah di gedung lain dalam kawasan MPR/DPR ada atau tidak, kami peserta sudah lelah dan lapar. Padahal banyak peserta yang kelihatannya mapan secara ekonomi dan mempunyai uang, tapi tidak tahu harus membeli kemana. Peserta dari daerah ada yang berteriak-teriak, mereka dari daerah tidak tahu harus membeli makanan dimana.
  • PPWI sepertinya tidak mendanai biaya peserta dari daerah, entah mereka datang atas biaya sendiri atau dibiayai dari Pemda mereka.
  • Dan kurang colokan untuk handphone, entah menjelang sore, malah colokan listrik yang aktif tiba-tiba tidak bisa dipakai. Apakah dicabut atau tidak oleh panitia, wallahu'alam. Untuk kami yang sangat bergantung dengan handphone, rasanya sangat menyebalkan.
Undangan PPWI ini sangat menggiurkan. Dari undangan yang beredar di grup Whatsapp, memang banyak yang dijanjikan oleh panitia. 


Tulisan ini masih banyak kekurangan dan tidak menghakimi siapapun, hanya ingin menjelaskan situasi sebenarnya yang terjadi di Kongres PPWI, karena saya dan teman-teman blogger ada di sana, menjadi peserta, bukan berita HOAKS.

Para peserta bertahan sampai malam menuntut hak, karena berharap kericuhan di Kongres Nasional 2 PPWI menjadi pelajaran buat siapapun, agar tidak terulang lagi peristiwa yang sama di kemudian hari.