Book

Food Culinary

Otomotif

Recent Posts

We Made Me Indonesia, Gendongan Terbaik Buat Bayi Dan Ibu

Pernah merasakan bahu sakit karena menggendong anak menggunakan gendongan? Saya pernah kalau menggendong anak kelamaan. Sakit plus nyeri, tapi kalau tidak pakai gendongan takut kecapekan gendong.

Padahal gendongan yang bagus itu seharusnya tetap membuat si penggendong nyaman, sehingga tidak ragu-ragu menggendong anak. Karena menggendong, membangun bonding dengan si anak.

Nah pada hari Sabtu, 18 November kemarin, We Made Me Indonesia(WMM) mengadakan talkshow 'Menggendong Bayi Dengan Benar Untuk Kesehatan Tulang Ibu Dan Bayi,' di Metro Pondok Indah Mall, dengan narasumber Ayu Hastari dan Nindya, dari Baby Wearing Club.



Di talkshow ini, selain fashion show para mommies dan dadies yang menggunakan gendongan WMM, ada juga kakak kecil yang menggunakan WMM untuk menggendong adiknya yang masih batita.



Mba Nindya yang membawa anaknya yang kelihatannya masih 1 tahun, menjelaskan tentang cara menggendong yang benar, sambil memperagakan sesekali dengan model anaknya sendiri.

Saya bertanya tentang gendongan yang baik saat ibu ada di atas motor. Mba Nindya menjelaskan kalau saya bisa menggunakan gendongan(carrier) Pao Papoose dengan cara anak menghadap ke saya. Selain itu, memang cara menggendong anak mengarah ke depan, hanya disarankan selama 15 menit, tidak lebih. Kalau anak tetap digendong mengarah ke depan dalam jangka waktu lama, anak akan rewel sesampai di rumah.



Selain itu buat bayi newborn, cara menggendong yang baik itu dengan pantat lebih ke bawah. Anak newborn belum bisa duduk, jadi berat ditumpukan di pantat. Ada lagi tips dari mba Nindya, cara menggendong yang baik, kaki anak berbentuk M, jangan diluruskan, karena kasihan kakinya masih dalam perkembangan.

Sehubungan dengan launching carrier terbaru yaitu Wuti Wrap, diadakan demo menggunakan Wuti Wrap, yang kemudian dilanjutkan dengan games. Sayang saya tidak mendapatkan kertas di bawah kursi, sehingga tidak dapat mengikuti game. Game tersebut mempraktekkan demo penggunaan Wuti Wrap dalam waktu singkat. Ada 3 peserta, dan yang tercepat menggunakan Wuti Wrap dengan benar, akan menjadi pemenang. Akhirnya terpilih 1 pemenang dan mendapatkan Wuti Wrap. Senangnya.

Acara dilanjutkan dengan sesi Mba Ayu Hastari, yang juga menggunakan carrier WMM. Mba Ayu mengaku senang menggunakan WMM, karena suaminya bisa ikutan menggendong anak. Selain itu WMM, membuat si penggendong bisa melakukan banyak hal, tanpa menganggu kenyamanan anak. Mba Ayu juga mempraktekkan menggendong anak bisa dilakukan sambil senam Zumba, sehingga ibu yang baru melahirkan bisa mengembalikan badannya langsing seperti semula.



Terakhir acara ditutup dengan foto bersama para undangan dan blogger. Sekitar awal Desember, WMM akan ikutan pameran di JCC. Siapa saja yang berminat membeli, WMM yang merupakan brand asli United Kingdom dengan kualitas terjamin.



Penasaran dengan carrier WMM?







Ricuh Kongres Nasional PPWI Kedua

Kongres Nasional PPWI 2 yang diadakan di Gedung Nusantara V pada hari Sabtu, 11 November 2017 sebenarnya bagus sekali. Banyak informasi yang disampaikan oleh para narasumber, yang terdiri dari berbagai pihak, tentunya berguna untuk para peserta.  Namun akhirnya terjadi kericuhan yang sangat disesalkan berbagai pihak.

(Ruang Dewan yang gaduh karena tuntutan peserta)

Berikut kronologisnya :
  • Registrasi dimulai pada pkl. 08.00-09.00 WIB
  • Acara dimulai dengan pembukaan dari doa lintas agama
  • Acara inti dengan para narasumber
  • Pembagian pin di tengah acara oleh panitia, sempat ada narasumber yang komplain agar pembagian pin dihentikan karena menganggu acara 
  • Pembagian snack di tengah acara oleh panitia, tapi hanya dibagikan di urutan depan bangku berderet 6x5, sedang bangku di tengah ke belakang, sampai peserta yang berdiri di belakang, karena tidak kebagian bangku, tidak mendapatkan snack
  • Peserta mulai rusuh di luar karena komplain tidak mendapatkan snack.
  • Peserta berebutan kupon makan siang di luar
  • Acara selesai untuk umum dan mahasiswa pada pukul 12.00 WIB, acara akan dilanjutkan lagi dengan intern PPWI pada pukul 13.30 WIB
  • Pembagian makan siang berupa nasi box, mulai rusuh lagi. Para peserta berebutan makan siang, dan kupon makan siang tidak berlaku. Yang penting siapa yang berani berdesakan dan berebutan makanan, baru bisa makan. Banyak yang tidak mendapatkan lagi makan siang.
  • Saat kongres intern PPWI akan dimulai pukul 13.00 WIB, peserta umum dan mahasiswa, masuk lagi ke ruang dewan dan protes tidak mendapatkan snack dan makan siang kepada narasumber. 
  • Narasumber menenangkan peserta dan mengatakan makan siang sudah dipesan, tinggal menunggu. Peserta mulai tenang, dan mendengarkan. PPWI menjanjikan sertifikat dibagikan. PPWI menjelaskan katanya peserta membludak, dari 1000 peserta yang diperkirakan yang datang 1500 peserta.
  • Tiba-tiba peserta berhamburan keluar, mengira goodie bag dibagikan  ternyata nasi padang. Peserta banyak yang marah, ternyata nasi padangnya basi. Entah semua basi atau hanya sebagian, karena saya sudah makan nasi box, jadi tidak merasakan nasi padangnya.
  • PPWI menjanjikan sertifikat dibagikan. Sertifikat katanya dibagikan di luar. Peserta keluar dan antri di meja registrasi, ternyata sertifikat dibagikan di luar. Peserta marah dan masuk lagi ke dalam.
  • Peserta diminta duduk di bangku, dan sertifikat dibagikan oleh panitia. Keadaan tenang.
  • Tiba-tiba peserta berhamburan keluar, ternyata goodie bag berupa tas ransel dan buku dibagikan hanya 4 kardus besar, dan itu berebutan juga. Peserta marah dan mengejar panitia, sampai ke ruang belakang. Pintu belakang didobrak dan peserta berebutan mengambil goodie bag. Sadewi, salah satu teman blogger mengatakan kalau kardus berisi goodie bag ditendang-tendang panitia, untuk disembunyikan. Dan di bawah tangga, juga terdapat kardus berisi goodie bag. 
  • Peserta yang lain mencari panitia menuntut goodie bag dan fee transport ke dalam ruang dewan. Entah kenapa, ruang dewan gelap, ada beberapa lampu yang dimatikan. Saya pun sempat merekam di dalam ruang Dewan.
  • Keadaan sangat rusuh, saya keluar dan ada peserta yang mengintip salah satu ruangan terkunci. Ada tumpukan kardus di sana. Peserta memanggil panitia untuk membuka ruangan tersebut, panitia muncul dan mengatakan pintu akan dibuka, tapi petugas keamanan juga muncul dan mengatakan kalau barang di kardus untuk acara lain bukan acara PPWI. Akhirnya pintu tidak jadi dibuka. Peserta kecewa. 
  • Ruang dewan kembali tenang. Peserta kembali dan menuntut goodie bag dan uang fee. PPWI mengatakan goodie bag sudah dibagikan. Tapi kenyataannya yang mendapatkan hanya sedikit, peserta marah. Peserta menuntut kejelasan uang fee, kalau tidak absensi yang tercantum fee transport Rp. 110.000,- dikembalikan ke peserta. PPWI menawarkan uang fee akan dibagikan pada hari Senin, peserta menolak dan menuntut uang fee dibagikan saat itu juga.
  • Akhirnya pukul 16.00 diputuskan PPWI akan berunding terlebih dahulu dan keputusan paling telat pukul. 18.00 WIB. Peserta setuju.
  • PPWI kembali ke ruang dewan pada pukul. 17.45 WIB, dan menyampaikan tentang laporan keuangan. Ternyata memang uang dari Dewan sudah turun sebanyak 55 juta untuk transportasi 500 peserta. Tapi sekitar kurang lebih 30 juta dipakai untuk operasional. Dan ada sisa uang sekitar 20 juta atau 22 juta(saya kurang pasti jumlahnya, karena PPWI agak kurang jelas penyampaian sisa uangnya). Uang sisa itu yang akan dibagikan ke peserta, dengan taksiran setiap peserta akan mendapatkan uang Rp. 61.800,-. 
  • Peserta menolak dan meminta dibagikan tetap di angka Rp. 110.000,-. Peserta menganggap PPWI sudah melakukan penggelapan uang, dengan memakai uang sekitar 30 juta untuk operasional, padahal itu uang transport peserta yang diberikan oleh DPD. Malah ada peserta yang pengacara, ibu Grace, menyatakan PPWI sudah melakukan penggelapan uang, dan bisa diajukan ke Polisi. Polisi yang hadir di situ, sampai salah tingkah saat ibu Grace ingin mengajukan delik. Peserta pun menuntut ketua panitia untuk dihadirkan. Suasana panas.
  • Kata sepakat kemudian didapat, para peserta pun absen kembali untuk melihat jumlah peserta yang tersisa, karena banyak yang pulang. Bila memang memungkinkan jumlahnya, peserta tetap mendapatkan transport Rp. 110.000,-
  • Setelah absen terkumpul, pada pukul 19.50 WIB, akhirnya peserta mendapatkan uang transport Rp. 110.000,- Tapi caranya dipanggil satu persatu dari absen baru dan harus menunjukkan KTP atau bukti identitas lainnya. Kalau tidak membawa, peserta terpaksa difoto. 
  • Akhirnya saya dan teman-teman blogger dipanggil sekitar pukul. 20.30 WIB, mendapatkan uang transport Rp. 110.000,- dan keluar dari ruang Dewan lalu pulang.
Sebenarnya saya dan teman-teman blogger lainnya juga pernah datang di suatu event, atas nama pribadi bukan komunitas blogger, seperti Kongres Nasional PPWI ini, yang tidak mendapatkan snack dan makan siang. Tapi kami terpaksa menerima dan memilih pergi pada sekitar pukul. 11.45 WIB dan tetap melaksanakan kewajiban blog post. Hanya karena penasaran dengan hasil akhir kesepakatan peserta dan PPWI, kami memutuskan untuk tinggal. 

Sudah lagi para peserta yang memperjuangkan yang terdiri dari mahasiswa, umum, perwakilan daerah dan lain-lain, meminta kami untuk bertahan di Gedung Nusantara V. Sebenarnya memang bukan nominal uang transport yang dipermasalahkan oleh peserta, tapi profesionalitas PPWI dan panitia. 

Ada beberapa faktor yang membuat para peserta marah :
  • Banyak utusan dari daerah, sayangnya saya tidak ingat dari daerah mana saja. Seingat saya ada yang dari Sulawesi Utara, Papua, dan sebagainya.
  • Ada peserta yang berusia lanjut sekitar 60-70 tahun, kakek dan nenek yang tidak mendapatkan makanan karena tidak bisa berebutan, sehingga ada yang demam, karena sampai pukul 14.00 WIB belum makan. Sedih mengetahuinya.
  • Ada juga peserta difabel, yang ini membuat saya sangat terharu. Saat berbincang dengan peserta laki-laki di sebelah saya, dia mengaku dari yayasan Difabel di Bogor. Dia mensyukuri hanya dia yang datang dari yayasannya, karena dengan keterbatasan seperti memakai tongkat, kursi roda, tidak mungkin mereka berebut makanan. Dia sendiripun  mengaku kaki kanannya memakai kaki palsu dan mengendarai motor dari Bogor ke Gedung MPR. Dia sangat berharap mendapatkan uang transport untuk pengganti bensin. Selain dia, memang ada beberapa peserta lain yang memakai kursi roda dan tongkat. 
  • Di gedung Nusantara V tidak ada minimarket, tidak ada foodcourt, tidak ada kaki lima, tidak ada penjual makanan dan minuman. Entahlah di gedung lain dalam kawasan MPR/DPR ada atau tidak, kami peserta sudah lelah dan lapar. Padahal banyak peserta yang kelihatannya mapan secara ekonomi dan mempunyai uang, tapi tidak tahu harus membeli kemana. Peserta dari daerah ada yang berteriak-teriak, mereka dari daerah tidak tahu harus membeli makanan dimana.
  • PPWI sepertinya tidak mendanai biaya peserta dari daerah, entah mereka datang atas biaya sendiri atau dibiayai dari Pemda mereka.
  • Dan kurang colokan untuk handphone, entah menjelang sore, malah colokan listrik yang aktif tiba-tiba tidak bisa dipakai. Apakah dicabut atau tidak oleh panitia, wallahu'alam. Untuk kami yang sangat bergantung dengan handphone, rasanya sangat menyebalkan.
Undangan PPWI ini sangat menggiurkan. Dari undangan yang beredar di grup Whatsapp, memang banyak yang dijanjikan oleh panitia. 


Tulisan ini masih banyak kekurangan dan tidak menghakimi siapapun, hanya ingin menjelaskan situasi sebenarnya yang terjadi di Kongres PPWI, karena saya dan teman-teman blogger ada di sana, menjadi peserta, bukan berita HOAKS.

Para peserta bertahan sampai malam menuntut hak, karena berharap kericuhan di Kongres Nasional 2 PPWI menjadi pelajaran buat siapapun, agar tidak terulang lagi peristiwa yang sama di kemudian hari.

Hotel Aston Marina, Ulang Tahun Ke-9 Yang Meriah

Mimpi yang menjadi kenyataan, terdaftar sebagai salah satu blogger bersama komunitas Blogger Cihuy, yang bisa menghadiri Aston Marina 9th Anniversary. Yippeee... Saya tidak menyangka akhirnya menginjakkan kaki di hotel Aston Marina. Soalnya terakhir saya masuk hotel itu sekitar 6 tahun yang lalu di Bandung, pas bulan madu. Norak ya? Habis mau gimana lagi, suami termasuk orang yang sukanya weekend di rumah. Rutinitas setiap weekend yaitu nyuci baju, tidur, lalu jalan-jalan sama anak. 

Pernah sewaktu hamil anak kedua, Raif, sekitar 2,5 tahun yang lalu, saya ngidam menginap di hotel dekat Ancol. Tapi suami tetap saja menolak. Padahal saat itu saya lagi menghasilkan uang lumayan, karena mengerjakan skenario sinetron. Sayang saya tidak nekat booking kamar hotel dekat Ancol, akhirnya ngidamnya tidak kesampaian. Jadi jangan disalahin Raif kalau tidur suka ileran.

Dari dulu memang penasaran sama Aston Marina, bisa melihat laut indah dari kejauhan, deburan ombak yang menari-nari, merasakan segarnya angin laut, dan yang terpenting ke Ancolnya dekat banget. Jadi kepingin cepat-cepat menghadiri Aston 9th Anniversary.

Saat masuk ke lobby Aston Marina, banyak tamu sudah berdatangan. Awalnya sempat bingung, dimana panggungnya? Prediksi saya akan ada panggung besar di dalam sebuah aula, dan para pengunjung akan duduk di deretan bangku-bangku. Tapi prediksi saya salah, ternyata panggung kecil di depan pintu masuk itulah panggungnya. Wow.

Duo MC kocak membuka acara dengan mengadakan games bagi para pengunjung. Games-gamesnya lucu-lucu, dari pulsa handphone yang paling sedikit, dimenangkan oleh papa blogger, mas Satto Raji, sampai pengunjung yang ingat dengan alamat hotel Aston Marina dan juga acara yang diadakan selama perayaan.

Hadiah-hadiah yang dibagikan juga menggiurkan, sayang nggak dapat. Dari hadiah voucher Gondola Ancol sampai hadiah menginap gratis di hotel Fave. Wah.

Di antara semua games, ada satu games yang tidak ada pemenangnya yaitu, pengunjung yang memakai kaus kaki bola, kocak banget. Tahu gitu, saya bela-belain dari rumah pakai kaus kaki bola, biar dapat hadiah.



Setelah duo MC kocak selesai, acara dilanjutkan dengan fashion show pagelaran batik Gobang Jakarta karya Ethys Mayoshi. Baju batik ini dipadu padan menjadi baju kasual, baju pesta dan juga baju semi formal. Tidak hanya untuk wanita tapi juga untuk pria. Dan pas juga dipadu padan sebagai baju couple, pria dan wanita.




Saat acara berlangsung saya surprise pemotongan tumpeng dilaksanakan di bawah panggung, bergabung dengan para pengunjung. Merakyat sekali pikir saya. Hotel Aston Marina sepertinya ingin membangun kedekatan dengan para pengunjung dan penghuni hotel. Sehingga hotel terasa hommy dan menyenangkan. Tidak heran banyak wisatawan yang selalu menginap di Aston Marini, mungkin feels like home.

Home is the place where, when you have to go there, they have to take you in. (Robert Frost)


Aston Marina Ancol memang merakyat, ini terbukti di perayaan Ulang Tahun ke 9 ini, Aston Marina mengundang usaha-usaha kecil menengah di bawah naungan Inacraft untuk meramaikan perayaan. Dengan tema 'I Love Local Product', yang berlangsung tanggal 10-12 November 2017.

Mau tahu acara apa saja yang berlangsung selama perayaan? Yang pasti sih, pas banget buat ibu-ibu aktif seperti saya. Jadi bisa belajar cooking class oleh Kokita dan Forvita, beauty class oleh Martha Tilaar, perlombaan menghias cup cake oleh Pondan. Dan yang juga paling menyenangkan bagi saya yang juga penggemar kopi, yaitu Coffee Clinic oleh Javabika. Selain itu tidak ketinggalan demo membatik secara langsung oleh ibu-ibu pembatik.


Bagi yang mau menginap di Aston Marina bisa banget nih, karena fasilitasnya lengkap dengan koneksi gratis menggunakan Wi-Fi, lokasi yang dekat Ancol, stasiun Kota, bandara Soekarno Hatta, dan juga pusat perbelanjaan Mangga Dua.