Yakin Dunia Ini Aman? Mungkin Kita Perlu Mengunjungi Pameran MSF ‘No Borders, Dokter Lintas Batas’

Moms, Seberapa sering kita merasa hidup sudah melelahkan? Jadi, buat apa mengurusi yang terjadi di luar sana? Toh, buat urusan sehari-hari saja kepala sudah penuh. Tapi yakinkah Moms, kehidupan akan berjalan lancar dan mulus sampai anak cucu kita? Yakinkah anak-cucu kita tidak akan mengalami seperti yang dialami orang-orang di luar sana sekarang? Moms, no one knows what will happen tomorrow. Para pengungsi itu tidak pernah membayangkan, negara mereka akan mengalami perang dan konflik berkepanjangan. 

                                                      (© Francesco Zizola/NOOR)

Hidup mereka dulu sehari-hari sama seperti kita. Bekerja, mengurus anak, membersihkan rumah, membangun masa depan yang cerah. BOOMM....Tiba-tiba perang melanda dan memporak-porandakan semua. Kehilangan rumah, anggota keluarga, dan harta benda sudah pasti. Lalu mereka berubah menjadi pengungsi yang mencari jaminan keamanan untuk hidup. Namun siapakah yang akan membantu mereka bila terluka dan sakit? Adakah organisasi kemanusiaan yang tidak memihak pihak lawan atau pihak kawan? Syukurlah ada MSF. Moms pernah dengar MSF? Ingatkah Moms, peristiwa wabah Ebola di Afrika Barat? MSF, salah satu organisasi yang turut menyuarakan tentang Ebola.

Sebenarnya apa itu MSF? Dalam acara Meet 'N Greet Blogger, di Bakoel Koffie, pada tanggal 26 November 2016. Mba Intan, selaku MSF Communication Staff, menjelaskan MSF (Medecins Sans Frontieres) merupakan organisasi kemanusiaan medis internasional yang didirikan pada tahun 1971. MSF ada di 70 negara, untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada penduduk yang membutuhkan. Aktivitas MSF mencakup perawatan kesehatan dasar, layanan kesehatan ibu dan anak, pembedahan, upaya menangani wabah, merehabilitasi dan mengelola rumah sakit dan klinik, vaksinasi massal, mengoperasikan pusat-pusat gizi, layanan kesehatan jiwa, serta memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan setempat.

                                            (Pribadi)

Wah, MSF pastinya membutuhkan banyak uang Moms. Trus darimana MSF mendapatkan dana untuk operasional? Mungkin Moms menduga, pasti datangnya bantuan dari negara besar, seperti Amerika dan negara-negara lainnya. Kalau begitu sama saja dong MSF dengan lembaga kemanusiaan lain. No Moms, BIG NO. MSF benar-benar dibantu oleh 92 % individu pribadi dan 7% baru dibantu oleh lembaga lain. Bayangkan Moms, kalau di daerah konflik perang yang rata-rata orang curiga dengan pihak lawannya. MSF bergerak dengan netral, siapapun yang terluka akan diterima untuk diobati. Mau itu pihak pemberontak atau pihak pemerintah, pasti dilayani bila terluka.


                                         (© Eddy McCall/MSF)
Selain itu MSF juga membantu negara-negara miskin dan yang menderita akibat bencana alam. Saat wabah Ebola melanda Afrika, tidak ada yang peduli. Mbak Intan, selaku MSF Communication, mengatakan saat itu orang di negara maju seakan berkata, “Oh, itu kan terjadi di negara Afrika. Tapi saat seorang perawat pulang ke negaranya, Amerika, lalu dinyatakan positif terkena Ebola, dan berpotensi menyebarkan Ebola ke orang lain. Orang mulai ketakutan. Oh, it could be happen to us. Baru dunia membuka mata. Kebayang nggak sih, kalau yang terkena ebola itu anak kita atau kita sendiri? Seram ya Moms.
Moms, mau melihat langsung MSF dari dekat? Nah, MSF mengadakan Photo Exhibition & Film Screening, ‘No Borders, Dokter Lintas Batas,’ dari tanggal 8-18 Desember 2016 di Grand Indonesia, West Mall, lantai 5, Exhibition Hall.  Gratis dan Terbuka Untuk Umum.

                                                   (MSF)
Kenapa bertemakan No Borders? Karena tema ini dipilih untuk mengangkat semangat kemanusiaan yang tidak memandang ras, agama, maupun politik. Pameran ini juga menyuarakan betapa pentingnya melindungi keselamatan para pekerja kemanusiaan dan rumah sakit di tengah-tengah konflik.

Moms, we need to teach our children about empathy. Anak-anak itu, perempuan itu, tidak pernah mengerti mengapa harus ikut menderita dalam konflik berkepanjangan. Menderita dalam kemiskinan. Mengalami berbagai penyakit dan luka akibat perang. Untuk itu Moms perlu mengajak keluarga, untuk menyaksikan langsung peran MSF dalam memberikan fasilitas kesehatan gratis bagi mereka yang terlibat dalam perang dan kemiskinan. Pameran ini ada pemutaran filmnya lho... Catet nih, jadwalnya

PEMUTARAN FILM DI ACARA “NO BORDERS’
PERSEMBAHAN DOCTORS WITHOUT BORDERS/DOKTER LINTAS BATAS (MSF)
  1.   Living in Emergency
Jumat, 09 Desember, 19:00
Sabtu, 17 Desember 19:30 (+ bincang-bincang bersama field workers MSF)

Sutradara/Director       : Mark Hopkins
Bahasa/Language        : Inggris dengan teks Bahasa Indonesia/English with Indonesian subtitle
Durasi/Duration           : 90 menit/90 minutes
Film dokumenter ini mengikuti empat dokter MSF yang bekerja di Liberia dan Republik Demokratik Kongo dalam kondisi kerja yang terkadang cukup ekstrem.Sebuah gambaran nyata tentang para pekerja MSF di misi kemanusiaan.
  1.   Fire in the Blood
Sabtu, 10 Desember, 11:00
Minggu, 18 Desember, 11:00 (+bincang-bincang bersama Koalisi Obat Murah )

Sutradara/Director       : Dylan Mohan Gray
Bahasa/Language        : Inggris dengan teks Bahasa Indonesia/English with Indonesian subtitle
Durasi/Duration           : 87 menit/87 menit
Film dokumenter ini mengangkat kisah nyata perjuangan sekelompok orang yang menentang 
monopoli obat-obatan, hingga akhirnya obat HIV generik bisa tersedia di Afrika Selatan dan negara berkembang lainnya di dunia.
  1.   The Invisibles
Sabtu, 10 Desember 19:30
Jumat, 16 Desember 19:00

Su                    Sutradara         : Wim Wenders, Mariano Barroso, Isabel Coixet, Javier Corcuera, 
                          Fernando Leónde Aranoa
Bahasa             : Swahili, Spanyol, Inggris dengan teks Bahasa Indonesia
Durasi              : 95 menit
Javier Bardem, aktor pemenang Academy Award, mempertemukan Wim Wenders dan empat sutradara lain untuk menggarap lima film pendek tentang krisis yang terabaikan di beberapa negara di dunia.

Selain pemutaran film, ada pameran fotonya juga Moms. Ada 3 topik yang bisa kita lihat. Penasaran foto apa saja yang dipamerkan? Nih, bisa baca dulu penjelasannya! 

1. Battling Neglected Disease
(kisah para tenaga medis MSF, pasien, dan dinas kesehatan melawan wabah penyakit)
Moms, wabah penyakit bisa terjadi di lingkungan yang stabil, namun cepat berkembang di situasi darurat di mana terdapat pengungsi dalam jumlah besar, dan tinggal berdesakan dengan kondisi sanitasi   yang buruk. Wabah kolera, cacar air, dan meningitis dapat menyebar dengan sangat cepat. Sebagai contoh Moms, virus Ebola yang menyebar pada tahun 2014 telah menimbulkan kepanikan di Afrika Barat. Di bawah ini foto jubah Ebola yang digunakan tenaga kesehatan MSF di bangsal perawatan ebola di Liberia, Sierra Leone, Guinea (Afrika Barat).
                                                       (©John Moore/Getty Images)

Ada informasi, Moms, bisa melihat langsung jubah petugas kesehatan MSF yang ada di foto, pada saat pameran. Keren nih Moms, bisa mengenalkan langsung kepada anak-anak, jubah tersebut. Selain ebola Moms, ada malaria, yang merupakan  penyakit endemis di lebih dari 100 negara. Sementara itu, jutaan orang di dunia kini hidup dengan HIV/AIDS dan tuberculosis (TBC). Wahhh.. Bayangkan, ternyata banyak ya penderitanya di dunia.

Lalu bagaimana cara MSF menjalankan perannya? MSF itu mendukung layanan dan fasilitas kesehatan setempat atau mendirikan fasilitas baru jika dibutuhkan. MSF merawat pasien dan menjalankan program penyuluhan di lingkungan sekitar. MSF juga menjalankan program vaksinasi massal, misalnya TBC resisten obat (drug-resistant TB). Untuk ini Moms, para dokter MSF tidak bekerja sendirian, mereka dibantu tim medis dan non-medis seperti tenaga logistik, keuangan, dan lainnya.

2. Because Tomorrow Needs Her
(layanan kesehatan perempuan sejak remaja, hamil, dan melahirkan)

Nggak nyangka Moms, ternyata setiap harinya, 800 perempuan di seluruh dunia meninggal akibat kasus kehamilan yang sulit. Katanya sebagian besar terjadi di negara berkembang di mana layanan kehamilan yang berkualitas tidak selalu tersedia. Remaja kerap luput dari pendidikan kesehatan reproduksi dan ini meningkatkan risiko kesehatan mereka di masa mendatang. Di wilayah konflik, kehamilan yang sebenarnya bisa ditangani dengan aman dapat menyebaban kematian, misalnya saat hamil terpaksa mengungsi. Melahirkan di tengah kondisi darurat bukan hanya sulit, tapi juga berbahaya. Perkosaan pun menjadi salah satu senjata perang untuk memberikan ancaman psikologis pada masyarakat. Aduh, kesal banget Moms, membacanya. Bila terjadi perang, pasti ada pemerkosaan..😢😢

                                         (© Laurence Geai)

Tim medis MSF menyaksikan langkah nyata perempuan untuk bertahan hidup, melahirkan, dan melindungi anak serta anggota keluarga mereka di tengah berbagai situasi sulit, contohnya dengan berjalan kaki puluhan kilometer untuk mendapat perawatan HIV bagi bayinya.  Perempuan jelas bukan korban yang pasif. Kenapa begitu? Ya jelaslah, perempuan dan gadis remaja di seluruh dunia berhak atas perlindungan, layanan kehamilan, dan layanan kesehatan reproduksi. Dan yang paling penting, mereka berhak untuk menceritakan kisah mereka. Kisah-kisah berikut ini dituturkan dengan lantang oleh para pasien perempuan yang MSF damping. 

Harapan mereka, juga MSF, agar Moms dan keluarga, ikut menjadi saksi kisah perjuangan mereka, dan ikut berkontribusi untuk memperbaiki tingkat kesehatan perempuan. So, don't missed Moms! Oh ya, nanti di ruang sudut pameran, pengunjung bisa membaca diary seorang perempuan yang hamil dan melahirkan di tengah pengungsian.
3. Krisis Pengungsi

Bayangin Moms, dunia sedang menyaksikan eksodus terbesar setelah Perang Dunia II. Konflik di Suriah telah memasuki tahun ke-5. Coba renungkan,  rentetan bom dan serangan membabi-buta telah memaksa lebih dari 5 juta penduduk mengungsi ke negara tetangga. Di Irak, teror brutal ‘IS’ tidak memberi pilihan selain pergi menyelamatkan diri. Konflik di Libya, Afganistan, Mesir, Eritrea hanya sebagian contoh yang melahirkan krisis pengungsi saat ini. Para pengungsi harus mengarungi lautan untuk sampai di daratan Eropa dengan fasilitas seadanya. So sad, isn't it?

                                         (©Anna Surinyach)

MSF bekerja di negara-negara ini dan menyaksikan bahaya yang telah menjadi realita sehari-hari. Saat salah satu blogger ada yang bertanya kepada dokter Lukman, salah satu pekerja lapangan, "Kenapa dokter mau bergabung dengan MSF?" Dokter Lukman tersenyum dan berkata, "Someone has to do it." Ya, tidak semua orang terpanggil untuk bergabung dengan MSF yang memiliki banyak resiko kehilangan, terutama nyawa. Dokter Lukman menambahkan,"Sayangnya keberadaan MSF di suatu negara belum sepenuhnya aman, seperti rumah sakit yang dikelola MSF di Abs, Yaman."

Ya Moms, kisah tentang peledakan rumah sakit di Abs itu, dapat disaksikan di film dokumenter, Not A Target, yang ada di youtube.  Not A Target memperlihatkan dengan jelas kronologis saat pesawat berputar-putar di atas rumah sakit dan DUARRRR...! Ada ledakan di rumah sakit itu. Asap tebal membumbung tinggi di udara. Muncul anak perempuan sekitar umur 7 tahun, berwajah cantik dengan rambut agak pirang. “What's wrong we have done?” Anak perempuan itu menangis sambil marah. Ya, kemarahan kepada pihak yang telah mem-bom rumah sakit MSF. 

Lalu ada seorang pria berteriak ke kamera, “They bombed people in wheelchairs!” Setelah film berakhir, dokter Lukman menambahkan, "Ada 11 orang meninggal dan 19 orang terluka." Dokter Lukman yang saat itu sedang berada di kantor MSF, sekitar 10 kilometer dari lokasi ledakan. Coba Moms bayangin, selain warga setempat, di rumah sakit itu ada staf dan dokter MSF yang bertugas. Bagaimana dengan jaminan keselamatan mereka? Yah, itu sudah menjadi resiko pekerjaan. "Bahkan dokter dari Indonesia ada 1 orang yang meninggal karena tertembak di Somalia, pada tahun 2010," kata mbak Intan menambahkan.

Tunggu apalagi Moms? Buka mata hati dengan datang langsung ke acara ini.  Kalau Moms membawa anak-anak, bisa mendapatkan tour guide untuk family tour. informasi lebih lengkap, silahkan menghubungi Mba Fitria, selaku Event Assistant di nomor 0852.5597.9776.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkomentar dengan baik dan sopan. Kalau sempat, akan saya BW balik. Senang bisa saling berbagi informasi dengan anda. EmoticonEmoticon