Gizi Seimbang Pada Anak, Untuk Generasi Emas 2045

Setelah remaja, saya suka sedih kenapa saya yang paling pendek di antara kedua saudara saya. Apa karena gizi makanan saya saat kecil kurang? Atau memang bakatnya pendek, alias stunting? Ihiks, pengennya setelah punya anak, semua anak saya tidak mengalami stunting seperti ibunya. Tapi saya masih ragu, apakah anak saya bisa tinggi nantinya, atau pendek seperti ibunya?



Alhamdulillah, pada hari Selasa, 23 Januari 2018, saya diundang menghadiri Hari Gizi Nasional 2018, Mewujudkan Generasi Emas 2045, Anak Indonesia Zaman Now, No Malnutrisi, No Obesitas, Sayangi Anak Dengan Makanan Bergizi Seimbang,
yang diadakan oleh Muslimat NU di Gedung A, Departemen Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Di seminar ini yang menghadirkan para narasumber yang kompeten di bidangnya, tidak hanya  membahas gizi makanan tapi juga segi kesehatan dan kehalalan.

Hal yang cukup memprihatinkan, menurut
Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan MCN, ahli gizi masyarakat dari IPB, Indonesia merupakan negara kelima di dunia yang menderita kekurangan gizi. Dan ini cukup memprihatinkan karena gizi makanan yang kurang pada anak bisa menyebabkan stunting dan berpengaruh buruk pada kesehatan serta kecerdasan anak. Ya ampun sedihnya.



Saya baru tahu ternyata kalau rata-rata asupan energi anak umur 5-12 tahun sekitar 86,5% sehingga tidak boleh berkekurangan asupannya, kalau tidak anaknya bisa menjadi underweight dan stunting.

Kedua anak saya memang kurus tapi alhamdulillah untuk saat ini, tinggi badannya masih normal untuk seusia mereka. Semoga kurus bukan karena kurang asupan, setidaknya saya jadi belajar tentang gizi yang baik buat kedua anak saya. Dan mulai memperhatikan makanan mereka, agar makan teratur dengan makanan bergizi seimbang.

Selain kekurangan asupan, yang perlu diperhatikan juga dalam memberikan makanan kepada anak yaitu jangan sampai kelebihan asupan, karena bisa menyebabkab obesitas dan menimbulkan berbagai penyakit berbahaya seperti diabetes, hipertensi dan penyakit jantung.

Memang perbedaan ukuran anak desa dan kota besar terlihat mencolok saat ini. Dimana anak desa rata-rata lebih kurus dibandingkan anak kota yang lebih gemuk. Kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang berbeda. Di perkotaan, banyak sekali makanan siap saji yang dapat menyebabkan kegemukan. Dimana makanan ini tinggi kalorinya, tinggi natriun, terlalu manis dan kurang serat. Sedangkan di pedesaan, makanan masih banyak yang dimasak dan disajikan dengan lebih sehat. Seperti keponakan-keponakan saya, ada yang tubuhnya gemuk-gemuk, apalagi yang sedari kecil minum Susu Kental Manis(SKM). Ternyata setelah melihat video yang ditayangkan, SKM itu malah menjadi karamel setelah dibuka kalengnya, hal itu menandakan kalau SKM merupakan gula bukan susu.

Jadi saran Prof. Dr. Dodik, agar gizi makanan anak seimbang pada anak usia 2-5 tahun, tidak stunting dan tidak obesitas, yaitu dengan :

  • Makan 3 kali sehari bersama keluarga
  • Perbanyak makanan kaya protein(tempe, tahu, telor, susu dan tahu)
  • Perbanyak sayur dan buah
  • Batasi makanan terlalu asin, manis dan berlemak
  • Minum air putih sesuai kebutuhan
  • Biasakan bermain bersama keluarga dan melakukan aktivitas fisik


Sedangkan menurut Dr. dr. Rini Sekartini Sp. A. (K), Ketua Umum IDAI, stunting dapat dimulai sejak kehamilan ibu, dimana ibu yang kekurangan gizi saat hamil, akan menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, yang ditandai dengan berat badan janin yang dibawah berat badan normal. Hal ini kemudian akan berdampak ke pertumbuhan otak, pertumbuhan badan dan juga berpotensi penyakit tertentu. Ini saya sesali sekarang, karena anak pertama saya, Erin berpotensi anemia seperti ibunya, karena saat hamil, saya malas mengonsumsi makanan mengandung zat besi.



Dan yang paling menyeramkan ternyata bayi gizi buruk, walaupun survive hidup, tapi kemungkinan pada usia 40 tahun, IQ-nya akan rendah, sehingga mempengaruhi produktivitasnya. Waduh.

Memang kebutuhan gizi bayi sejak kecil harus diperhatikan. Namun saya suka bingung setiap mempunyai bayi, saat mengenalkan MPASI pada umur 6 bln, kadang bayi tidak doyan makan, hal ini menurut ibu Rini, karena rata-rata ibu memberikan MPASI yang tidak ada rasanya, hambar. Padahal sejak dalam kandungan, bayi sudah mengenal rasa makanan dari makanan yang dimakan ibunya. Sehingga sejak diberikan MPASI, ibu bisa memberikan garam dan gula sebagai perasa.

Lalu bagaimana peranan pemerintah dalam mengusahakan tercukupinya gizi seimbang anak Indonesia? Karena biasanya kalau bicara gizi yang baik, biasanya anak dari keluarga kurang mampu, tidak mendapatkan asupan gizi yang baik. Dra. Hj. Siti Masrifah, MA, anggota DPR RI Komisi IX dari Fraksi PKB, menyampaikan total anggaran Kesmas Pagu akhir 2017 adalah Rp. 1.702.182.968.000,- Wow jumlahnya besar ya. Pemerintah memang memberikan perhatian yang besar terkait pangan dan gizi di masyarakat.



Selain itu juga harus diingat makanan yang dimakan itu harus halal dan thoyib. Jadi anak jangan sekedar dikasih makanan, tapi juga diperhatikan faktor lainnya. Kenapa begitu? Karena Islam memang menganjurkan demikian. Sehingga Muslimat NU, bisa menjadi agen perubahan untuk mensosialisasikan makanan halal dan thoyib kepada masyarakat.

Memang benar menurut saya, karena makanan halal dan thoyib itu bisa membentuk perilaku anak di masa akan datang, dari segi intelektual, emosional dan spritual.

Dibahas lebih lanjut oleh ibu Dra. Hj. Nur Hayati Said Agil Siradj MA, Ketua Pengurus Harian Muslimat NU,  saya baru tahu ternyata banyak ayat Al Quran yang menyinggung tentang hikmah makanan halal. Bagaimana makanan halal menjadi sangat penting dalam kehidupan, sehingga berulang kali disebutkan dalam Al Baqarah ayat 168, Al Maidah 88, Al Maidah 4, Al An'am 118, Al Anfal 69 dan An Nahl 114. Masya Allah banyak banget ya.



Memang untuk mewujudkan Generasi Emas tahun 2045, benar-benar dibutuhkan makanan yang tidak hanya bergizi seimbang (thoyib) tapi juga halal. Saya mendapatkan banyak pengetahuan di seminar ini. Semoga ke depannya, akan ada lagi seminar-seminar bermanfaat seperti Hari Gizi ini yang diadakan Muslimat NU.




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

10 komentar

komentar
26 Januari 2018 14.30 delete

Dampak dari stunting cukup fatal, mempengaruhi masa depan ya kak

Reply
avatar
26 Januari 2018 14.37 delete

Edukasi seperti ini bagus banget ya, jadi banyak tau, terutama soal SKM yang tentunya bukan untuk dikonsumsi sebagai susu.

Reply
avatar
27 Januari 2018 09.18 delete

Gizi seimbang, perlu di perhatikan oleh orang tua. Karena bila tidak, maka perkembangan anak akan terganggu. Iya ga mba Ovi..

Reply
avatar
28 Januari 2018 07.51 delete

Ibu zaman now harus pandai mengolah makanan agar keluarha terjamin kebutuhan nutrisi dan gizinya.sehingga tidak terjadi malanutrisi seperti Stunting dan Obesitas

Reply
avatar
29 Januari 2018 10.16 delete

Sebagai orangtua kita wajjb ya memperhatikan asupan si kecil. Jangan keliru dengan kandungan nutrisi, bisa obesitas kalau ga kurang gizi

Reply
avatar
2 Februari 2018 16.50 delete

Iya, kasihan anak-anak masa depannya karena stunting

Reply
avatar
2 Februari 2018 16.51 delete

Saya juga baru tahu SKM bukan susu, kasihan anak-anak yang minum, malah jadi obesitas

Reply
avatar
2 Februari 2018 16.52 delete

Bener banget mas, gizi seimbang. Kasihan kalau sampai stunting atau obesitas.

Reply
avatar
2 Februari 2018 16.53 delete

Ibu memang tiangnya keluarga dalam soal makanan. Biar anak dan keluarga tumbuh sehat dan kuat, serta bergizi seimbang

Reply
avatar
2 Februari 2018 16.56 delete

Orang tua memang harus memperhatikan gizi anak, kasihan kelebihan atau kekurangan gizi

Reply
avatar

Terima kasih sudah berkomentar dengan baik dan sopan. Kalau sempat, akan saya BW balik. Senang bisa saling berbagi informasi dengan anda. EmoticonEmoticon