Suami Yang Ideal Seperti Apa?

Saat masih menyandang jomnes alias jomblo ngenes, saya selalu memimpikan akan menikah dengan suami yang ideal. Dulu saat masih anak-anak, saya mengidokan Satria Baja Hitam RX, setelah remaja saya mengidolakan Bon Jovi, lalu dewasaan dikit saya tergila-gila sama Jet Lee. Apalagi nonton Bodyguard from Beijing, hati sepertinya meleleh, hehe.. Setelah mengikuti pengajian alias liqo, saya menginginkan menikah dengan ikhwan yang ikut pengajian juga, istilahnya laki-laki berjenggot yang suka menundukkan kepala dan rajin ke masjid.



Sayang hampir semua kemiripan idola-idola saya itu tidak ada yang nyangkut di suami sekarang, wkwkw.. Cuma yang nyangkut itu rajin ke masjid (itu pun setelah beberapa tahun menikah), tidak bisa bela diri seperti Satria Baja Hitam RX dan Jet Lee, tidak bisa nyanyi seperti Bon Jovi, dan tidak ikut pengajian dan memelihara janggut.

Namun alhamdulillahnya, sekarang suami bangun subuhnya lebih dulu dari saya, karena suka jamaah di masjid, dan sholatnya tepat waktu. Malah sekarang saya yang suka disindir biar sholat tepat waktu, ibadah dhuha dan tahajudnya juga lebih kenceng. Selain itu juga berbakti ke mertua, mau ngantri nomor rumah sakit buat ibu mertua subuh-subuh, sementara saya malah kadang tidur lagi, wkwkw..

Setelah menikah saya baru menyadari arti suami ideal tersebut. Ternyata setelah menikah, ada beberapa hal yang harus kita kompromikan, agar idealnya seorang suami terwujud. Kekurangan dan kelebihan suami kita terima dengan lapang dada, begitu juga dia sebaliknya. Lalu kompromi-kompromi seperti apa yang saya telah lakukan?

  • Saya melihat figur ayah, apakah ayah ideal atau ayah temperamental? Lalu bandingkan dengan calon suami. Miripkah dengan ayah? Ada penelitian yang mengatakan, anak perempuan akan memilih suami yang mirip ayahnya. Nah ini jelas sekali saya perhitungkan. Kalau memang ayah kita merupakan suami yang baik, ya alhamdulillah. Tapi bila ternyata ayah kita merupakan ayah yang tidak baik, dalam arti suka KDRT, selingkuh, main perempuan, suka mabuk, suka mencuri. Yang harus diwaspadai, karena tidak semua anak perempuan terlahir dari ayah yang baik, termasuk saya. Saya mempunyai almarhum ayah, yang pemarah dan suka sekali memukul. Dan saya hampir menikah dengan laki-laki tipe seperti ini, untungnya tidak jadi. Membayangkan seperti apa pernikahan nanti sajiaa sudah membuat stress. Seperti yang dialami oleh tokoh Tasya dalam novel Before I Met You, karangan Achi TM, dalam mencari suami ideal.
  • Saya akhirnya tidak mencari suami yang spesial, tapi cari suami yang membuat saya spesial. Mungkin calon suami jauh dari kriteria ideal, tapi kalau bisa saling mendukung satu sama lain, dialah suami ideal. Laksana bulan dan matahari saling menyinari bergantian. Berat sih, kadang kita suka berpikir, gimana kalau nikah sama mantan, seperti apakah rumah tangga kita? 
  • Saya berhenti berpikir kekurangan suami, dan lebih melihat kepada kelebihannya. Menikah dengan orang jelek, miskin, pendidikan rendah tidak menjadikan jaminan dia akan menjadikan dirimu ratu. Karena kualitas seseorang itu tergantung karakter, iman, pemahaman agama, bukan kekurangannya. Dalam berumah tangga semuanya berat kalau dirasa berat. Istri harus pintar-pintar menyiasati segala hal dengan baik, dan pastinya saya mengurangi rasa baper. Walaupun baper pasti ada, tapi nggak baik juga kalau dipelihara.


  • Dulu sewaktu mau menikah tahun 2011, seorang sahabat memarahi saya, yang tidak menerima pinangan teman laki-laki, dengan syarat menikah 1 tahun lagi. Saya tidak mau. Pokoknya saya mau menikah sekarang, lelah menunggu untuk dinikahi. Alhamdulillah, akhirnya saya menikah juga tahun 2011, tentunya dengan suami sekarang. Karena itu saya berpikir, jangan biarkan diri kita selalu menunggu. Menunggu untuk dilamar, menunggu dibawa ke rumah calon mertua, menunggu dikenalkan ke teman-teman, selalu menunggu, karena janji hanya janji. Bila kita orang yang tepat baginya, dia tidak akan membiarkan kita menunggu terlalu lama. Iya kan?
  • Dan yang terpenting dalam menikah itu suami mau berbagi menurut saya. Berbagi kesedihan, berbagi kebahagiaan, termasuk berbagi mengurus rumah dan anak. Apalagi saya termasuk tipe yang kalau diam di rumah, malah stress sendiri. Jadi saya memilih tetap berkarya walaupun harus menjadi Ibu Rumah Tangga. Biasanya saya mengambil pekerjaan di waktu weekend, sehingga suami yang libur kerja, bisa gantian menjaga anak. Selain itu suami juga mau berbagi pekerjaan rumah, seperti menyuci piring dan menyuci baju. Alhamdulillah, dengan begitu saya bisa ikut mencari tambahan penghasilan keluarga, dan merasakan nikmatnya tetap berkarya walaupun sudah menikah dan mempunyai anak.


Begitulah suami ideal versi saya. Mungkin orang-orang lain berbeda versi, tapi setidaknya dalam menikah saya berusaha menerima realitas, supaya tidak terperangkap dengan pesona laki-laki lain (termasuk aktor dan penyanyi laki-laki) yang akan membuat zina hati. Karena bila selalu mencari, saya yakin kita tidak akan pernah menemukan laki-laki yang sangat ideal untuk dijadikan suami. Pernikahan bahagia itu adalah saling menerima satu sama lain. Percaya deh!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkomentar dengan baik dan sopan. Kalau sempat, akan saya BW balik. Senang bisa saling berbagi informasi dengan anda. EmoticonEmoticon