Pernikahan Betawi Di Lingkungan Rumah, Cuma Betawi Punya Gaye

Eh hujan gerimis aje
Ikan bawal diasinin
Eh jangan menangis aje
Bulan syawal dikawinin
(Benjamin)

Sepenggal lirik dari Benyamin S. ini, kadang suka saya nyanyikan saat masih jomblo. Lucu aja mendengarnya, suka ketawa-ketawa sendiri. Apalagi pas patah hati, lumayan buat menghibur diri. Tapi biasanya dinyanyiin terus sih, biar menjadi doa, nikahnya pas bulan Syawal.

Sebagai orang yang ngaku-ngaku menjadi orang Betawi(padahal sih bukan), dan tinggal di pinggiran Jakarta. Saya suka sekali melihat adat budaya Betawi yang ditampilkan saat pernikahan Betawi di lingkungan rumah. Maklum, masih banyak tetangga yang Betawi asli dan masih mempertahankan adat. Jadi beberapa kali menyaksikan langsung pernikahan dengan adat Betawi.

Berikut hal-hal yang ada di pernikahan Betawi, menurut pengamatan saya :
  • Petasan. Ini merupakan percampuran dengan budaya China. Petasan ini katanya semacam alarm untuk memanggil undangan agar datang. Orang China dulu yang kangen dengan suara petasan di kampungnya suka menyalakan petasan. Nah, berhubung dulu tidak ada kartu undangan, orang Betawi meniru orang China, menyalakan petasan, sebagai tanda memanggil para undangan. Sampai sekarang pun di lingkungan rumah saya, walaupun sudah mendapatkan kartu undangan, tetap saja didatangi langsung bila mengundang untuk nikahan. Selain nikahan, petasan juga digunakan untuk perayaan sunatan adat Betawi.
  • Tradisi palang pintu. Biasanya rombongan pengantin pria dicegat oleh perwakilan pengantin wanita. Di sini perwakilan pengantin pria dan perwakilan pengantin wanita berbalas pantun dan juga berkelahi dengan silat. Seperti sudah diatur, perwakilan pengantin wanita kalah, sehingga rombongan pengantin pria bisa melanjutkan pernikahan.

  
  • Tarian ondel-ondel. Ini diadakan setelah tradisi palang pintu. Penarinya bisa dewasa, ataupun anak-anak. Cuma saya lebih suka versi anak-anak, lucu dan kagum, kecil-kecil sudah melestarikan budaya betawi.
  • Marawis. Setelah tarian ondel-ondel selesai, marawis mengiringi rombongan pengantin pria dengan sholawat, untuk melakukan akad nikah. Ini merupakan percampuran budaya Betawi dengan budaya Arab dan juga unsur islam. 
Di sini serunya menyaksikan adat budaya Betawi saat nikahan dari dekat. Dan di antara pernikahan suku-suku lain, cuma Betawi yang jarang diadakan di gedung. Mereka lebih memilih menikah di rumah, walaupun rumahnya berada di gang sempit. Mungkin karena merasa kampung halaman sendiri, dan ingin pernikahannya meriah.

Selain itu juga, entah adat atau bukan. Orang betawi di dekat rumah saya, sangat suka menikah dengan  tetangga. Bahkan yang baru menikah minggu kemarin, suami istrinya cuma beda satu RT. Duh, jauh benar. Sampai penghulunya juga meledek, jodohnya kejauhan, haha..

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkomentar dengan baik dan sopan. Kalau sempat, akan saya BW balik. Senang bisa saling berbagi informasi dengan anda. EmoticonEmoticon